Pages

Pages

Kamis, 21 Maret 2013

Dr. Benny Giay: Belajar dan Belajar Untuk Wujudkan Papua Damai Sejahtera

DR.Beny Giay   (Foto:doc album pribadi)
SBP------ (20/03/03) dalam ibadah chapel di STT Walter Post Jayapura yang dikemas dalam diskusi bersama, Dr. Benny Giay  memberikan beberapa pandangan dan nasehat kepada seluruh civitas akademika. 

Diskusi diawali dengan membaca ayat kitab suci dari Kejadian 1:31. “ Tuhan melihat semua karya ciptaannya sungguh amat baik.”

Menurutnya, Allah telah menciptakan segala sesuatu dan semua itu dilihatnya baik. Semua ciptaan itu telah ditempatkan Tuhan, di tempatnya masing-masing. Dengan tujuan agar mereka tidak saling merebut dan menjerat. Tidak saling bermusuhan. Hidup dalam suasana damai dengan saling menghargai.

Tapi situasi itu kemudian berubah. Apa yang tadinya baik telah berantakan. Tanah-tanah dirampas. Situasi itu seperti digambarkan dalam Ratapan 5:1-5, “Ingatlah ya Tuhan, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami. Milik pusaka kami berahli kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing. Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda....dst.”  

Sambungnya, Gereja dewasa ini ada di tengah dunia yang kacau balau itu. Di tengah dunia yang tidak aman. Dunia yang mana manusianya saling memburu, mencurigai dan membunuh. Di tengah dunia yang tidak lagi menghargai hak milik seseorang atau komunitas manusia.

Dunia kita di Papua pun kacau balau hari ini, tuturnya. Ada banyak anak-anak jalanan. Ada banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dalam tahun awal tahun ini saja ada banyak kasus kekerasan dan penembakan yang terjadi. Misalnya, Pdt. Yunus Gobay yang di tangkap dan disiksa oleh polisi di Paniai sekitar tanggal 02/03 lalu. Agar bisa dibebaskan polisi minta uang Rp.1.000.000;

Lanjutnya, Peristiwa-peristiwa kekerasan itu membuat kita semua hidup dalam suasana was-was dan takut. Ada orang Papua yang mau hidup damai tapi ada perusahan-perusahan yang datang mengusik mereka, apalagi didukung oleh pemerintah.  Suasana seperti ini telah tercipta sejak lama di sini.

Kehidupan kita hari ini sama seperti kehidupan bangsa Israel di bawah pemerintahan Firaun di Mesir. Orang Israel saat itu dibuat tak berdaya karena semua kehidupan mereka sudah diatur dan dikendalihkan oleh Firaun. Barangkali hidup kita saat ini pun seperti itu. Hidup kita diatur dan dikendalihkan oleh orang lain. Ada jual beli senjata di Papua tapi tak ada tanda-tanda penanganan oleh aparat keamanan, padahal gereja sudah menyampaikan masalah itu dalam pertemuan dengan Kapolda dan Pangdam beberapa waktu lalu di kantor Sinode Kingmi. Kami juga telah menyampaikan itu dalam jumpa pers yang telah kami lakukan pada 6 Maret 2013 yang lalu. Kasus jual beli senjata itu misalnya, yang terjadi di Timika pada 24 Desember 2011 lalu.

Apa yang Pengamat Politik Indonesia Pikir tentang Tentang Papua?
Menurutnya, Joko seorang intelektual Indonesia pernah mengatakan bahwa pemerintah menciptakan pembangunan bias pendatang di tanah Papua. Orang Papua dianggap tidak penting atau tidak ada. Sehingga semua yang datang dari luar mencaplok habis semua sumber daya hidup orang Papua.

Ini sama dengan orang Israel yang masuk ke tanah Kanaan. Mereka merampas habis semua yang menjadi milik orang Palestina. Ia sama juga dengan sejarah awal Indonesia masuk ke Tanah Papua. Orang Indonesia pikir Papua itu termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya sehingga dengan sembarangan ambil semua harta kekayaan orang Papua.  Disini terjadi perbedaan pikiran. Indonesia merasa tanah papua adalah milik mereka, sementara orang Papua bilang tidak itu tanah milik kami.

Sambungnya, ada tokoh lainnya, yakni Daniel Dakidae. Dalam tahun 2000 ia mengatakan bahwa apa yang terjadi di Papua adalah perbudakan terselubung. Ini sama dengan apa yang terjadi atas kelompok Ahmadiyah salah satu kelompok Islam minoritas di Indonesia yang ditekan habis-habisan di Pulau Jawa sampai hari ini.

Ada juga Nugroho Wibawanto. Ia berpandangan bahwa kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah Indonesia di Papua adalah kebijakan yang melumpuhkan[1]. Kebijakan itu sangat menekan orang Papua sehingga tidak bisa berkembang. Ini sama dengan kebijakan Firaun di Mesir. Ketika Firaun takut kalau orang Israel bertambah banyak dan kuat lalu memberontak melawan dia, maka ia mengeluarkan kebijakan pembunuhan anak laki-laki orang Ibrani dan kerja paksa. Dengan maksud supaya orang Israel sibuk dan tidak berpikir untuk pulang ke Kanaan. 

Tokoh yang lainnya, yakni Cypri J Paju Dale. Ia mengatakan bahwa kekerasan di Papua sudah mencapai kepada tingkat darurat kekerasan[2]. Ia melihat bahwa kekerasan di Papua bukanlah semata-mata insiden, melainkan kondisi darurat lingkaran setan yang brutal, bersumber pada komplikasi kekerasan langsung, struktural dan kultural.  Itu terlihat dengan adanya kekerasan dalam rumah tangga, operasi militer, masyarakat adat yang dimarjinalkan, masyarakat asli yang dipaksa bersaing dengan pendatang, konflik politik, adanya ketidak percayaan antara Jakarta dan Papua, dll.  

Apa yang Dibuat dan Bisa Dibuat Umat Tuhan di Papua?
Menurut Benny, untuk keluar dari permasalah dan tekanan hidup seperti itu ada orang Papua yang membangun gerakan-gerakan keagamaan baru. Dengan itu mereka berharap dapat membantu dirinya keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.  Ada juga yang berdoa di kuburan-kuburan orang mati supaya arwah orang mati itu bisa bantu mereka. Ada yang hanya menunggu di ruang tunggu menantikan mujizat Tuhan, dll.

Sementara Gereja Kingmi di Tanah Papua, secara lembaga telah mengeluarkan surat gembala agar umat bisa menyikapi tusukan dari berbagai arah yang dialamatkan kepada mereka dengan; 1) gereja mengajak umat untuk  pintar membaca tanda-tanda zaman yang sedang terjadi di seputaran hidup mereka. 2) gereja menyeruhkan supaya umat saling menghargai harkat dan martabat manusia termasuk martabat istri dan anak-anak, sebab dalam setiap kita Tuhan sudah menaruh cahaya-cahaya yang harus terus dijaga. 3) gereja mengajak umat agar membuang kebiasaan menganggap anak tidak penting, sehinga membuat anak hidup dijalanan dan tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. 4) gereja meminta umat untuk membuang budaya proposal dan mengembangkan budaya kerja.

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Dosen dan Mahasiswa STT Walter Post?
Yang bisa dibuat oleh dosen dan mahasiswa adalah belajar dan belajar, tuturnya. Para dosen harus banyak membaca dan membuat metode mengajar bahan ajar yang pas. Ini supaya para mahasiswa bisa mencerna semua pengetahuan yang disalurkan dengan baik agar bisa berguna saat mereka melayani nanti di lapangan, tuturnya.

Sambungnya, Mahasiswa juga diharapkan untuk banyak bergaul dengan buku. Dekat dengan perpustakaan yang ada serta mengikuti informasi lewat media radio, televisi dan internet, guna membekali diri dan mempertajam pengetahuan. Selain itu mahasiswa juga harus bisa menambah serta meningkatkan skil dalam bidang apa saja. Ini agar nantinya bisa menghadapi realita hidup keras seperti yang telah kita gambarkan diatas.

Mengakhiri wejangannya,  ia menyampaikan bahwa ketika kita melakukan semua itu, kita sedang berubah untuk menjadi kuat dan kita pasti akan tiba pada visi gereja kita yakni Papua Damai Sejahtera.

Naftali Edoway

Sumber : http://suarabaptis.org/index.php/2011-08-15-07-20-50/suara-kenabian/747-dr-benny-giay-belajar-dan-belajar-untuk-wujudkan-papua-damai-sejahtera