Pages

Pages

Kamis, 28 Februari 2013

Ini Tuntutan Mahasiswa Uncen Dalam Aksi Pemalangan Kampus

Zeth Wenda, kordinator aksi saat
memberikan keterangan kepada pers
(Foto: Arnold Belau/SP)
PAPUAN, Jayapura— Siang tadi, Selasa (26/2/2013), mahasiswa Universitas Cenderawasih Papua melakukan aksi pemalangan kampus untuk menuntut pertanggung jawaban lembaga terhadap pelayanan di kampus yang dinilai sangat buruk. 

Adapun tuntutan mahasiswa yang dibacakan oleh Kordinator Aksi, Zeth Wenda, pertama, segera renovasi jalan dan parkiran roda dua dan roda empat di setiap Fakultas di lingkungan Universitas Cenderawasih.

Kedua, segera lakukan pengadaan perlengkapan sekretariat BEMF dan DPMF di setiap Fakulatas Universitas Cenderawasih.
Ketiga, pihak lembaga diminta untuk segera merenovasi toilet yang ada di seluruh Fakultas Universitas Cenderawasih.
Keempat, meminta kejelasan dari pihak lembaga atas keberadaan Bus Universitas dan kejelasan pengelolaan iuran atau uang senat yang dikumpulkan oleh seluruh mahaiswa Universitas Cenderawasih.

Kelima, meminta pengadaan air bersih di seluruh Fakukltas Uncen dan juga di seluruh asrama yang ada di  kampus Universitas Cenderwasih.
Keenam, meminta kejelasan kesejahteraan dosen-dosen yang ada di lingkungan kampus Universitas Cenderawasih.

Ketujuh, mendesak dosen-dosen yang tidak aktif mengajar di kampus agar pihak pimpinan Fakultas memberikan sanksi administrative terhadap dosen-dosen yang bersangkutan.
Kedelapan, mahasiwa menuntut oknum-oknum dosen yang melakukan praktek bisnis di kampus Uncen agar segera dihentikan.

Kesembilan, meminta pihak lembaga agar segera menghentikan proses pembayaran yang dilakukan oleh mahasiswa saat mengurusi KPM, karena dalam aturan lembaga Uncen KPM diurus secara gratis tanpa bayar.

Dalam aksi pemalangan tersebut, mahasiswa berharap pihak lembaga kampus, dalam hal ini Rektor Uncen dapat menemui mereka dan menjelaskan akar persoalan tersebut, namun hingga siang hari tak ada satupun perwakilan kampus datang.

Aksi sendiri berakhir sekitar pukul 13.00 WIT, dan massa membubarkan diri dengan tenang. 

ARNOLD BELAU